Dongeng Asal Mula dan Berakhirnya Dunia

18 11 2009

Clive Staples Lewis yang populer dengan nama CS Lewis menyederhanakan pemikiran itu dengan imajinasi yang mudah diterima anak-anak. Dongeng klasik populernya, The Cronichles of Narnia, Lewis tidak hanya mengisahkan cerita klise hitam putih tentang kebaikan yang mengalahkan kejahatan. Di dongeng tujuh seri itu, diceritakan pula bagaimana terbentuknya suatu dunia ciptaan dan proses pemusnahannya.

Dunia ciptaan CS Lewis itu bernama Narnia. Narnia adalah suatu dunia yang ditempati berbagai makhluk, mulai kurcaci, raksasa, ogre, naga, roh-roh pohon, centaur (manusia kuda), faun (manusia berkaki kambing), dan hewan-hewan yang bisa berbicara. Mereka semua setia dan berbakti dengan penguasa Narnia, Aslan, seorang singa agung.

Dua anak manusia dari Inggris, Digory dan Polly Plumer menjadi saksi asal mula terbentuknya Narnia (dalam seri The Magician’s Nephew). Dua sahabat ini keluar dari dunianya setelah ditipu paman Digory, Andrew Ketterly, yang ternyata seorang penyihir. Mereka menjelajahi berbagai alam hingga bertemu dengan penyihir keji Jadis.

Ketika berupaya mengembalikan Jadis ke dunia asalnya itulah, tanpa sengaja mereka melalui dunia yang kelak menjadi Narnia. Sebelum terbentuk Narnia, dunia itu gelap, diam dan statis. Lewat nyanyian Aslan, dunia kelam itu bangkit. Lalu terbitlah cahaya yang ternyata sebuah matahari. Kemudian muncul angin, pegunungan, lembah, dan lautan. Menyusul kemudian tanaman-tanaman yang membuat Narnia tidak lagi hitam kelam. Berikutnya, bermunculan hewan-hewan yang persis seperti hewan di bumi, hanya berukuran lebih besar. Singa suci itu kemudian mengajak sepasang dari tiap hewan dan mengajarinya tentang alam dan bahasa manusia.

Kedamaian Narnia terusik oleh Jadis. Penyihir wanita itu merayu Digory dan Polly untuk memakan buah apel keabadian. Mirip dengan kisah terusirnya Adam dan Hawa ketika dibujuk rayu ular jelmaan iblis. Bedanya, rayuan itu tidak mempan. Kedua anak itu tidak memakannya, malah menanam pohon apel suci itu sebagai batas wilayah sekaligus pelindung Narnia. Bila pohon itu mati, dunia Narnia terancam. Dan ancaman itu kemudian terbukti.

Untuk mengembalikan kedamaian Narnia, Aslan memanggil empat ‘nabi’ lain, empat bersaudara Pevensie. Dalam seri The Lion, the Witch and the Wardrobe, diceritakan perjuangan Peter, Susan, Edmund, dan Lucy yang berhasil mengalahkan kekuatan jahat Jadis.

Banyak bagian dari kisah apik ini yang terisnpirasi dari kejadian nyata. Dalam seri The Horse and His Boy, Lewis menggambarkan peperangan antara bangsa Narnia melawan bangsa Calormen, mirip dengan Perang Salib. Sosok bangsa Calormen diceritakan layaknya bangsa Timur Tengah. Mulai dari cara berpakaian hingga kebiasaan raja ditandu ketika berjalan-jalan. Sedangkan bangsa Narnia serupa dengan kaum Eropa.

Pengarang kelahiran Belfast, Irlandia Utara ini tidak selalu menjadikan Calormen sebagai musuh dan bertabiat buruk. Lain waktu mereka juga bersahabat dan menjadi rekan dagang.

Lewis juga menjadikan penjelajahan Samudera yang dipelopori Vasco da Gama menjadi inspirasi dalam The Voyage of the Dawn Treader.

Ada pula kisah penjelajahan dunia bawah tanah dalam The Silver Chair.

Di buku terakhirnya, The Last Battle, CS Lewis menceritakan berakhirnya Narnia lama. Pertempuran hebat terjadi pada masa Raja Titian. Sebab musabab pertempuran itu karena tipu daya seorang kera yang mendandani keledai dungu Puzzle menjadi Aslan. Bangsa Calormen memanfaatkan kondisi Narnia yang tercerai berai ini. Perang dahsyat antara Calormen dan Narnia pun terjadi. Kemudian, Aslan memanggil penjaga waktu untuk meniupkan terompet sangkakala. Gunung dan langit hancur, hingga Narnia menjadi gelap dan statis seperti dahulu.

Hewan-hewan dan segala makhluk masuk ke gerbang di mana mereka harus bertemu Aslan. Mereka yang keji dan memusuhi Aslan akan masuk ke dunia gelap tak berujung, sedangkan mereka yang berbuat kebajikan akan hidup di Narnia baru yang lebih indah. Seperti surga dan neraka.

Tidak mengherankan bila CS Lewis melukiskan kisah-kisah di kitab suci melalui dongeng fantasinya. Sebab, Lewis seorang protestan sejati yang amat percaya dengan Ketuhanan Yesus. Namun efek buruknya, segelintir orang menuduhnya melakukan kristenisasi melalui karyanya ini. Padahal, kisah penciptaan dan musnahnya alam juga ada pada kitab suci agama lain. Kisah anak-anak manusia yang menjadi ‘nabi’ di dunia Narnia juga rekaan semata Lewis. Lagipula dongeng ini bisa ditafsirkan sebagai dongeng klasik yang kaya imajinasi tanpa tendesi tertentu. Bukankah imaginasi itu bebas?

Selain mengisahkan tentang dunia Narnia, buku ini kaya pesan moral. Antara lain persahabatan dan penghargaan kepada hewan dan tanaman. Pendapat setiap makhluk, termasuk tikus, dihargai. Pesan moral lainnya, kejujuran dan kasih sayang seperti yang dicontohkan empat bersaudara Pevensie.

Buku ini juga mengungkapkan kekecewaan Lewis pada materi ilmu dan sistem pengajaran di sekolah asrama Inggris. Ini mungkin pribadi Lewis yang unik, karena dia seorang profesor sastra di Universitas Cambridge. Empat bersaudara Pevensie dikisahkan lebih menyukai berpetualang bebas di alam daripada terkekang dengan pengajaran asrama yang ketat. Dan ketika mereka menjadi raja, mereka membebaskan rakyatnya dari kewajiban bersekolah.

Begitu pula dengan cerita Prince Caspian, anak-anak yang belajar di asrama digambarkan suka mempermainkan temannya dan menciptakan produk anak yang imaginasinya terbelenggu.

Kekecewaan Lewis juga nampak jelas dalam The Silver Chair. Jill dan Eustace ketakutan bertemu dengan teman-temannya di asrama karena kesewenang-wenangan senior terhadap junior.

Tentang kekecewaan Lewis, dia mengaku telah memaafkan salah satu guru SD yang pernah mengajarnya. Nyaris di sepanjang hidupnya ia tak mampu memaafkan guru tersebut. Hanya saja dia tidak mengungkapkan bentuk kekecewaannya itu. Beberapa bulan sebelum meninggal dunia, Lewis menulis surat kepada sahabatnya. “Beberapa minggu yang lalu, akhirnya aku bisa memaafkan guru kejam itu yang telah menggelapkan masa kanak-kanakku. Padahal aku sudah berusaha memaafkannya selama bertahun-tahun,” ungkapnya.

Detail Buku:

Judul: The Chronicles of Narnia (1-7) The Lion, the Witch and the Wardrobe, Prince Caspian, The Voyage of the Dawn Treader, The Silver Chair, The Horse and His Boy, The Magician’s Nephew, dan The Last Battle

Penulis: Clive Staples Lewis

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: