Kocineal, Serangga Pemerah Bibir

13 11 2009

SEMUA orang tentu mengetahui apa itu lipstick atau pemulas bibir bagi kaum wanita. Tetapi bagaimana warna merah menyala pada lipstik itu diperoleh ?

Bisa jadi Anda terkejut ketika tahu bahwa pewarna kirmizi (merah tua keungu-unguan) yang terdapat dalam beberapa produk perona pipi dan pemulas bibir, berasal dari kocineal (Dactylopius coccus), semacam kutu sisik pemakan kaktus tak berduri.

Majalah internasional, Sedarlah, mengungkapkan, kocineal betina dewasa panjangnya sekitar 3 milimeter, atau kira-kira seukuran pentol korek api. Kocineal jantan ukurannya hanya kira-kira setengahnya betina.

Tetapi jangan terkecoh oleh ukuran kocineal ini. Sebuah karya referensi mengatakan, ’’Hewan ini merupakan salah satu serangga yang paling merusak.’’ Akan tetapi terlepas dari reputasi ini, sejumlah petani justru mengembangbiakkan serangga ini.

Mengapa Karena para petani itu ingin memperoleh carmine, bahan pewarna merah indah yang diambil dari tubuh Kocineal betina, setelah binatang itu dikeringkan dan diremukkan terlebih dahulu.

Sejak zaman Mikstek purba, yang hidup di negara bagian Oaxaca, Meksiko, kocineal telah dimanfaatkan sebagai bahan pewarna.

Para penakluk asal Spanyol terpesona oleh warna kirmizi kocineal ini, dan tak lama kemudian banyak orang Eropa memuaskan selera mereka dengan warna-warna cerah dari pewarna alami ini.

Dulu Inggris menggunakan kocineal untuk warna tradisional merah marak seragam militer. Pemanfaatan kocineal begitu meluas sehingga sejak kira-kira tahun 1650 sampai 1860, hanya emas dan perak yang mengunggulinya sebagai komoditas ekspor Meksiko yang paling bernilai.
Keamanan Meningkat Pada pertengahan abad ke-19, bahan pewarna sintetis mulai menggantikan pewarna alami. Banyak factor yang turut menyebabkan hal ini. John Henkel dari majalah FDA Consumer menjelaskan, ’’Pewarna sintetis kimia jauh lebih mudah diproduksi, lebih murah, dan lebih unggul kualitas pewarnaannya.’’

Maka, dalam waktu singkat, warna-warna sintetis mengambil alih pewarna alami sebagai pewarna aditif dalam makanan, obat-obatan dan kosmetik.

Tetapi, kata Henkel, seraya pemakaiannya meningkat, meningkat pula tingkat keamanannya.

Penelitian-penelitian pada tahun 1970-an memperlihatkan bahwa pewarna sintetis tertentu dapat menyebabkan kanker. Sejak itu, pewarna alami mulai popular kembali.

Peru misalnya, sekarang memproduksi sekitar 85 persen pasokan Kocineal dunia.

Kepulauan Canary juga terkenal karena hasil panen Kocineal, sebagaimana Spanyol Selatan, Aljazair, dan Negara-negara Amerika Tengah dan Selatan Tetapi, permintaan terhadap carmine dewasa ini melebihi pasokan, sehingga pemerintah Meksiko terus berupaya untuk meningkatkan produksinya.
Produksi Carmine Serangga kocineal menghabiskan seluruh hidupnya di atas bantalan kaktus tak berduri. Hewan ini melindungi dirinya dari para predator dengan mengeluarkan senyawa semacam lilin berbentuk bubuk.

Bahan yang halus ini menyelimuti serangga itu dan berfungsi sebagai rumahnya. Dan, hal itu juga membuat si serangga mudah dikenali pada musim panen. Hanya kocineal betina yang mengandung pigmen merah, asam carmine.

Kocineal yang hamil mengandung konsentrasi asam carmine tertinggi.

Jadi untuk memperoleh pewarna berkualitas terbaik, para pekerja memberi perhatian khusus kepada kocineal yang hamil persis sebelum mereka bertelur. Di Pegunungan Andes, Peru, panen dilakukan sebanyak tiga kali dalam waktu tujuh bulan.

Kocineal diambil dari tanaman kaktus dengan menggunakan kuas yang kaku atau dikeruk dengan pisau tumpul. Setelah dikeringkan, dibersihkan dan dilumatkan, tubuh-tubuih serangga yang berbubuk ini diproses dalam amonia atau larutan natrium karbonat.

Bagian yang padat dari serangga ini kemudian disaring, sehingga tinggal cairan yang murni. Kapur dapat juga ditambahkan untuk menghasilkan gradasi warna ungu.

Meskipun mungkin setelah mengetahui asal warna kosmetik dari serangga, kemudian Anda merasa enggan untuk menggunakannya, tetapi yakinlah bahwa pewarna aditif (alami) merupakan salah satu pewarna yang paling baik.

Serangga yang sangat istimewa ini telah diteliti di berbagai laboratorium ilmiah, sehingga zat warna yang dihasilkannya sama sekali tidak membahayakan. (Eko Hari M-23)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: