Tomat, Mulanya Sekadar Tanaman Hias

6 11 2009

BERABAD-ABAD lalu, tomat atau ’’apel cinta’’ adalah tanaman yang tumbuh menyebar di wilayah Andean di Amerika Selatan. Buahnya lumayan enak. Tetapi orang Indian setempat tampaknya tidak menanamnya. Entah bagaimana, tanaman yang luar biasa ini sampai ke Meksiko, dan bangsa Aztek memberinya nama xitomatl.

Istilah tomatl menunjuk ke beberapa buah yang mirip dengan buah ini dan biasanya banyak airnya. Tak lama kemudian saus tomat atau salsa, menjadi bagian tetap dari masakan bangsa Aztek dan tomat perlahan-lahan mulai mendapatkan pengakuan internasional.

Para penakluk Spanyol juga mendapati saus tomat cukup enak rasanya. Pada tahun 1590, seorang imam Yesuit yang sebagian besar hidupnya tinggal di Meksiko mengatakan, bahwa tomat sangat menyehatkan, bagus untuk dimakan, dan banyak sari buahnya yang memberikan cita rasa enak kepada saus.

Dari Meksiko, orang Spanyol kemudian membawa biji tomat ke negaranya dan ke koloni mereka di Kepulauan Karibia serta Filipina. Tetapi, meskipun awalnya tanaman tersebut cukup menjanjikan, lebih dari tiga abad kemudian barulah tomat mendapat tempat yang layak di dapur-dapur di seluruh dunia.
Perlakuan Buruk Meskipun reputasinya bagus di Meksiko, tomat pernah mendapatkan perlakuan buruk di Eropa. Waktu itu, para botanikus Eropa mengklasifikasikan tanaman tomat sebagai anggota famili Solanaceae, famili yang sama seperti belladonna beracun atau deadly nightshade.

Selain itu, daunnya mengeluarkan bau yang tajam dan ternyata beracun. Rumitnya lai, para pakar tanaman obat menyatakan, bahwa tomat menganung kekuatan afrodisiak atau pembangkit syahwat.

Ada yang kemudian percaya bahwa inilah alasan Prancis menyebutnya pamme d’amour atau ’’apel cinta’’.

Aspek menjijikkan dari reputasi tanaman tomat uga menyebar di Amerika Utara. Hingga tahun 1820-an, seorang pekebun Amerika dari Massachusetts menyatakan, ’’tomat sangat menjijikkan, sehingga saya kira saya harus sangat lapar dulu sebelum tergoda untuk mencicipinya.’’

Dia bukan satu-satunya orang yang skeptis terhadap tomat. Orang Pennsylvania menyebutnya ’’sampah asam’’. Dan seorang hortikulturis Inggris menggambarkan tanaman itu sebagai ’’apel emas berbau busuk’’.

Untunglah orang Italia, yang pada abad ke-16 menamai tomat ini pomodoro (apel emas), lebih suka bertindak daripada berspekulasi. Dia menamai tomat sebagai apel emas karena ketika pertama kali tanamannya berbuah, warnya kuning keemasan.
Populer di Italia Pada awal abad ke-17, tomatpun menjadi makanan populer di Italia, karena iklimnya yang cerah cocok untuk tanaman tersebut. Tetapi, selama hampir dua abad, para pekebun di Eropa utara masih tidak yakin juga, dan mereka menanam tomat sekadar sebagai tanaman hias atau obat.

Tetapi, lambat laun orang mulai mencicipi tomat, dan pupuslah keraguan bahwa tomat adalah buah yang tak berguna. Banyak orang kemudian mulai ramai-ramai menanam tomat hingga tanaman itu berkembang pesat.

Pada tahun 1870-an tomat segar California bisa didapati di New York, karena adanya jalan kereta api lintas benua. Beberapa dasawarsa sebelumnya, kedai pizza yang pertama dibuka di Napoli, Italia.

Dan, selama abad ke-20, meningkatnya permintaan terhadap sup, sari buah dan saus tomat, belum lagi pizza yang popular itu, mengubah tomat yang sebelumnya banyak difitnah ini menjadi buah yang amat disukai.

Selain disukai oleh para petani komersial, tomat juga menjadi favorit para pekebun mulai dari daerah gurun Timur Tengah hingga ke Laut Utara.

Sebuah kilang minyak yang didirikan di Laut Utara tampaknya bukan tempat ideal untuk menanam sayur-sayuran dan buah-buahan. Tetapi tomat bukanlah tanaman yang rewel. Tanaman itu justru tumbuh subur di sana.

Hanya dengan air secukupnya dan kantong plastik khusus yang berisi semua nutrisi yang dibutuhkan, bibit tomat bahkan dapat tumbuh subur tanpa tanah.

Tomat kemudian amat popular di kalangan pengebor minyak. Mereka menanamnya di dalam kantong-kantong plastik dan meletakkannya di antara pipa-pipa dan mesin-mesin, sehingga area di sekitar kilang menjadi kelihatan hijau. Mereka kemudian memanen tomat hasil kebun sendiri untuk menghiasi meja makan mereka.
Di Gurun Dengan sedikit perhatian ekstra, tomat juga bisa ditanam di gurun pasir.

Orang Badui Jabaliyyah, yang tersebar di antara pegunungan Sinai di Mesir, membentuk kebun-kebun berteras yang diairi oleh mata air, sumur dan hujan yang kadang-kadang turun.

Kebun-kebun yang diairi dengan cermat bisa menghasilkan buah tomat dengan panenan berlimpah.

Sekarang, ada sekitar 4.000 varietas tomat yang dapat dipilih oleh para petani. Tomat Ceri (Lycopersicon esculentum) yang kecil dan banyak airnya, dikenal sebagai salah satu varietas tomat unggul.

Sedangkan tomat pruim yang manis biasanya dipasarkan dalam bentuk kalengan. Dan, tomat beefsteak besar, yang selalu ada dalam makanan Spanyol, cocok untuk salad dan aneka masakan.

Tetapi, tentu saja rasanyalah yang membangkitkan air liur kita. Dan, meskipun terbukti bukan sebagai ’’apel cinta’’ orang-orang di seluruh dunia kini mencintai tomat.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: