Musang, Dibenci namun Dicari

6 11 2009

TAHUKAH Anda dengan Musang? Binatang ini bertubuh sedang, dengan panjang total sekitar 90 cm (termasuk ekor, sekitar 40 cm atau kurang), dan memiliki warna abu-abu kecoklatan dengan ekor hitam-coklat mulus.

Sisi atas tubuh abu-abu kecoklatan, dengan variasi dari warna tengguli (coklat merah tua) sampai kehijauan. Jalur di punggung lebih gelap, biasanya berupa tiga atau lima garis gelap yang tidak begitu jelas dan terputus-putus, atau membentuk deretan bintik-bintik besar.

Sisi samping dan bagian perut lebih pucat. Terdapat beberapa bintik samar di sebelah menyebelah tubuhnya. Sebagian orang Jawa menyebutnya dengan sebutan Luwak.

Musang adalah hewan menyusui (mamalia) yang termasuk suku Musang dan Garangan (Viverridae). Nama ilmiahnya Paradoxurus Hermaphroditus dan di Malaysia dikenal sebagai Musang Pulut.

Hewan ini juga dipanggil dengan berbagai sebutan lain, seperti Careuh (Sunda), Luwak (Jawa), serta common palm civet, common musang, house musang atau toddy cat dalam bahasa Inggris.

Musang memiliki wajah, kaki dan ekor coklat gelap sampai hitam. Dahi dan sisi samping wajah hingga di bawah telinga berwarna keputih-putihan, seperti beruban.

Satu garis hitam samar-samar lewat di tengah dahi, dari arah hidung ke atas kepala. Hewan ini kebanyakan merupakan hewan malam (nokturnal) dan pemanjat yang baik.
Hutan Sekunder Dalam gelap malam tidak jarang Musang terlihat berjalan di atas atap rumah, meniti kabel listrik untuk berpindah dari satu bangunan ke lain bangunan, atau bahkan juga turun ke tanah di dekat dapur rumah. Musang luwak juga menyukai hutan-hutan sekunder.

Di tempat-tempat yang biasa dilaluinya, di atas batu atau tanah yang keras, seringkali didapati tumpukan kotoran binatang itu dengan aneka biji-bijian yang tidak tercerna di dalamnya. Agaknya pencernaan Musang ini begitu singkat dan sederhana, sehingga biji-biji itu ke luar lagi dengan utuh.

Banyak masyarakat membencinya karena menganggap hewan ini merugikan. Musang kerap dituduh sebagai pencuri ayam, walaupun tampaknya lebih sering memakan aneka buah-buahan di kebun dan pekarangan.

Yang jadi mangsanya adalah pepaya, pisang, dan buah pohon kayu afrika (Maesopsis eminii). Mangsa yang lain adalah aneka serangga, moluska, cacing tanah, kadal serta bermacam-macam hewan kecil lain yang bisa ditangkapnya, termasuk mamalia kecil seperti tikus.

Namun, siapa sangka, justru karena hewan ini negara Indonesia menjadi terkenal di mata dunia. Banyak petani kopi di Indonesia justru mencari keberadaan binatang malam ini. Anda tentu tahu dengan Kopi Luwak bukan?

Berkat jasa hewan inilah Kopi Luwak dapat mendunia seperti sekarang ini. Konon kemasyhuran kopi luwak berasal dari cara pembuatannya yang sangat berbeda dari cara umumnya. Kopi luwak diolah dari biji kopi hasil ‘fermentasi’ dalam perut luwak.

Paradoxorus Hermaproditus itu memilih buah kopi matang di pohon. Lalu mulut kecilnya mengupas kulit buah terluar. Para peneliti yakin bahwa biji kopi masih terbungkus kulit ari yang keras, sehingga tak hancur dalam pencernaan luwak dan keluar utuh bersama feses.
Paling Langka Biji-biji kopi dari buah kopi yang dicerna, kemudian dikumpulkan oleh para petani. Biji-biji kopi tersebut, yang masih terlindungi oleh kulit ari, kemudian dicuci dan dikupas.

Kopi luwak dikenal sebagai kopi paling langka dan paling mahal di dunia. Warung-warung kopi eksklusif di Jepang dan berbagai wilayah di Asia menjual secangkir kopi luwak seharga $ 50 dan bahkan lebih. Harga eceran untuk kopi luwak sangrai adalah $ 200 per kilogram atau bahkan lebih.

Di Eropa secangkir civet coffee-sebutan kopi luwak-dibanderol sampai 30 Euro atau setara Rp 450.000. Di tanah air, secangkir kopi luwak rata-rata Rp 100.000. Jika dalam bentuk roasted bean-kopi sangrai-harganya Rp 2-juta/kg.

Itu 40 kali lipat harga kopi nonluwak yang rata-rata hanya Rp50.000 per kg. Kopi jenis ini langka karena produksi di seluruh dunia hanya beberapa ton saja per tahunnya. Indonesia adalah sumber terbesar, di mana wilayah produksinya adalah Sumatera, Jawa dan Bali.

Dalam seduhan, kopi luwak memiliki heavy body dan keasaman rendah, hampir sama dengan kopi-kopi lainnya dari Indonesia. Aromanya manis dan mild, namun berbeda.

Para ahli kopi yakin bahwa proses pencernaan hewan luwak tersebut mengakibatkan terserapnya kandungan potassium kedalam biji kopi, dan menghasilkan profil aroma yang unik dan after taste manis.

Kemampuan luwak menyeleksi buah dengan tingkat kematangan pas jadi penentu enak tidaknya kopi luwak. Biasanya di perkebunan, pekerja hanya menyeleksi kematangan kopi berdasarkan tampilan warna kulit buah yang merah tua.
Berbeda dengan luwak yang mampu menyeleksi kematangan buah dari aroma dan rasanya.

Salah satu riset menyebutkan fermentasi pada pencernaan luwak meningkatkan kualitas kopi.

Misal kandungan proteinnya lebih rendah ketimbang kopi biasa karena perombakan melalui fermentasi lebih optimal. Protein pembentuk rasa pahit pada kopi saat disangrai.

Pantas kopi luwak tak sepahit kopi biasa karena kandungan proteinnya rendah. Komponen yang menguap pun berbeda antara kopi luwak dan kopi biasa. Terbukti aroma dan citarasa kopi luwak sangat khas.

Namun, patut disayangkan, Luwak saat ini ternyata sulit untuk ditemukan. Karena dagingnya yang diyakini bisa menyembuhkan penyakit Asma membuat binatang ini terus diburu.

Sehingga, kenikmatan kopi yang berasal dari memungut biji-biji kopi dari kotoran Luwak saat ini sangat sulit untuk ditemukan, kalaupun ada harganya akan sangat mahal


Aksi

Information

2 responses

7 11 2009
Adyt

Nice info, sbg tmbhan, musang ini di Aceh disebut ‘mangoh’,, aku orang aceh y tinggal didesa, seputaran lanud SIM BB,, kdg2 liat hewan ini dibelakang rumahku lg nyuri pepaya sore hari,, dia sering muncul malam hari..

7 11 2009
oslo3

wah iya brother..trimakasih…tambahanya……..ntar tak tmbahkan,,,,,salam kenal aja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: