Revolusi Teknologi Televisi

4 11 2009

Industri raksasa televisi saat ini berlomba-lomba melakukan investasi demi inovasi baru, dengan fitur-fitur yang makin canggih. Sebut saja Sony, Panasonic, Sharp, Hitachi, Philips, Samsung, dan LG. Belum lama ini, penulis mengunjungi pameran teknologi Internationale Funkausstellung (IFA) di Berlin, Jerman. Banyak perkembangan menarik seputar perkembangan teknologi televisi yang bisa terekam.

IFA merupakan salah satu pameran konsumer elektronik terbesar di dunia, termasuk televisi (TV). Selama ini, televisi dikendalikan remote control. Tetapi sekarang dikembangkan cara-cara terbaru untuk mengendalikan pesawat televisi.

Dalam IFA di Berlin, 4-9 September lalu, beberapa industri televisi memamerkan hasil inovasinya. Hitachi, misalnya, memamerkan TV baru yang memungkinkan penggunanya hanya melambaikan tangan di depan layar televisi untuk menyalakan dan mengganti channel. Kok bisa?

Pasalnya, televisi ini memiliki sensor di dalamnya, yang akan membaca situasi di depan pesawat televisi sebagai suatu peta tiga dimensi (3D). Dengan demikian, Anda cukup menggerakkan tangan apabila ingin mengetahui fitur-fitur yang ada di perangkat televisi tersebut.

Para pengunjung pameran juga mendapat sajian baru tentang full HD TV 3D. Meski masih dalam bentuk prototipe, televisi tiga dimensi ini mendapat perhatian dari buyer seluruh dunia.

Dulu kita menonton film 3D dengan kacamata ’’aneh’’ yang mengganggu. Sekarang Philips mengenalkan TV 3D tanpa harus menggunakan kacamata aneh itu lagi.

Keunggulan TV 3D Philips generasi terbaru adalah gambarnya yang jernih. Cukup menggunakan objek di layar, akan terlihat gambar dengan sudut pandang yang sedikit berbeda bagi masing-masing mata.

Lalu, otak mengolah perbedaan dua sudut pandang ini untuk menampilkan informasi itu sebagai citra tiga dimensi. Sayangnya, untuk sementara, pemirsa di Indonesia belum bisa memiliki televisi jenis ini, karena belum ada content-nya.
Persaingan Ketat Beberapa waktu lalu, kita melihat ’’persaingan’’ ketat dalam revolusi teknologi televisi, dengan kemunculan teknologi Liquid Crystal Display (LSD) dan Plasma Display Projector (PDP). Persaingan ini belum selesai, karena LCD TV masih mungkin untuk dikembangkan, terutama oleh Sharp.

Sedangkan plasma TV menampilkan gambar yang lebih kaya serta mirip bioskop daripada LCD. Biasanya konsumen mencari televisi dengan teknologi ini saat mau membeli televisi ukuran 42 inci ke atas. Sejauh ini, segmentasi pasar tersebut dikuasai oleh Panasonic (38,6 %).

Dalam pameran IFA, Sharp kembali memperkenalkan inovasi terbarunya di bidang LCD TV, dengan merek Aquos type XS 65 inci, namun masih diproduksi dalam edisi terbatas (limited edition). Inilah LCD TV tercanggih yang tersedia di pasar ritel elektronik.

Tipe yang terinspirasi oleh gambar bioskop ini dijual seharga 15.000 dolar AS (sekitar Rp 150 juta). Yang menarik, teknologi yang diusungnya seimbang, dengan backlight dan refrent rate 120 Hertz (Hz), atau dua kali lipat dari televisi tradisional.

Di luar persaingan LCD dan plasma TV, sejak 2004 para industriawan raksasa mencoba mengembangkan Organic Light-Emitting Diode (OLED), sebagai tren terbaru setelah kedua teknologi tersebut.

Teknologi OLED dinilai lebih unggul daripada LCD dan plasma, baik kualitas gambar atau penghematan energinya. Hal ini dapat terlihat dari merek Sony 11 inci sebagai tonggak bersejarah saat itu. Sayangnya, harganya sama dengan LCD dan Plasma TV 42 inci.

Karena itu, muncul teknologi lebih baru lagi yang dikenal dengan nama LED (Light Emitting Diode) yang dikembangkan Samsung. Produk inilah yang disebut-sebut sebagai revolusi teknologi televisi terbaru (sampai saat ini).

Samsung menjadi market leader di AS, bahkan dengan penjualan tertinggi di dunia untuk LED TV. LED yang berbasis semikonduktor sebagai sumber cahaya utama ini menggantikan lampu pijar tradisional dan mampu menghemat konsumsi listrik sampai 40 persen.

Bukan hanya itu, LED TV Samsung juga amat ramah lingkungan, karena bahan bakunya bebas dari raksa (merkuri), lebih tipis, dan ringan. Selain itu, ia punya keunggulan pada brightness, ukuran lebih mini dan tipis, switching yang lebih cepat, dan warna hitam yang lebih pekat.

Pada pameran IFA di Berlin, Samsung menjadi salah satu industri yang paling banyak disorot media cetak dan elektronik. Bisa dimaklumi, perusahaan ini telah menginvestasikan miliaran dolar AS pada panel LCD dan LED untuk pengembangan inovasi dan promosi agresif di Amerika dan Eropa.
Pilihan Konsumen Banyaknya produk televisi yang ditawarkan ritel elektronik menjadikan konsumen harus lebih berhati-hati dalam memilih produk yang sesuai. Hal yang terpenting dalam memilih sebuah unit televisi adalah kualitas gambar.

Teknologi-teknologi untuk meningkatkan gambar antara lain melalui resolusi full HD (dikenal sebagai 1.080 pixel), menggandakan refresh rate di layar untuk membantu mencegah gambar kabur, serta melalui teknologi LED yang diperkenalkan Samsung.

Ketatnya persaingan dan revolusi teknologi televisi juga membuat pemasar stasiun televisi menawarkan siaran dan iklan yang lebih spesifik, prime time yang lebih pendek dan melibatkan pemirsa. Selain itu, persaingan paling ketat juga melibatkan televisi kabel dan internet.

Produsen televisi seperti Apple TV mencoba mengembangkan sebuah piranti yang memungkinkan produk ini terhubung ke internet dengan cara lebih kreatif. Apple TV, yang baru dirilis, menampilkan film sebagus saat kita menonton dengan memakai blue-ray player.

Selain gambarnya bagus dan sempurna, juga terdapat prototipe software versi baru dan gratis. Software ini bisa diunduh dari YouTube (Google). Namun Apple TV tetap perlu memasang perangkat lunak open source, seperti boxee, agar dapat diakses ke semua video di internet.

Indonesia pun saat ini sudah memasuki era baru dengan siaran televisi digital. Salah satu industri televisi yang juga ikut memelopori TV digital adalah Polytron dan LG. Hal ini menambah keindahan siaran televisi dengan warna yang lebih jernih seperti aslinya. (32)

—Gouw Andy Siswanto, managing director Superstore Global Elektronik-Semarang.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: