Pakis Monyet

4 11 2009

ENTAH mengapa tanaman ini disebut pakis monyet. Mungkin karena sosok dan bulu-bulunya mirip monyet. Sebagian orang menyebutnya pakis anoman, pakis emas, hingga pakis sun-go-kong.

Ya, apapun namanya, tanaman hias ini memang terlihat sangat unik alias eksotik. Sebelum daun-daunnya tumbuh, akan tumbuh terlebih dulu batang yang menjulang menyerupai ekor monyet.

Di habitat aslinya, pakis monyet tumbuh alami dengan batang menjulang tinggi. Di ujung batang itu muncul tunas dan juntaian duan-daun yang melebar. Tunas itu ditumbuhi rambut-rambut halus berwarna cokelat keemasan.

Sesuai dengan namanya, pakis monyet (Cibotium barometz) memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan tanaman pakis yang biasa dijumpai, baik di taman dalam rumah maupun taman-taman kota.

Konon, tanaman ini berasal dari China. Semula pakis monyet hanya boleh ditanam di rumah-rumah orang terpandang di zaman kekaisaran dulu. Termasuk di ruang balairung pada masa Tiongkok Kuno.

Namun selama ratusan tahun, pamor pakis monyet meredup. Ketika sekarang muncul lagi, kendati belum pernah booming, para penggemar tanaman hias sempat terpesona melihat penampilannya.

Pakis monyet sangat cocok dijadikan tanaman indoor untuk mempercantik ruang tamu atau ruang keluarga. Ada yang memperkirakan jika pakis monyet bakal menggeser popularitas bonsai, meski sampai sekarang belum ada bukti akurat yang mengarah ke sana.
Makin Surut Perawatan yang agak rumit membuat beberapa penggemar tanaman hias mengurungkan niat mengoleksi pakis monyet.

Pasal-nya, tanaman ini memang sangat sensitif. Misalnya harus selalu ditempatkan di lokasi yang teduh. Sebab jika sering terkena sinar matahari secara langsung. pertumbuhannya justru melambat.

Itu sebabnya, pakis monyet lebih tepat dijadikan tanaman indoor. Bahkan kita tidak boleh terlalu sering menyiraminya, karena kadar air yang terlalu banyak menyebabkan tanaman mudah busuk.

Cara menyiraminya dengan merendam tanaman di atas media yang sudah diberi air. Ini untuk menghindari agar daun pakis monyet tidak cepat rusak.

Tidak mengherankan kalau jumlah penggemarnya terus menyusut. Imbasnya adalah harganya juga terus merosot.

Dulu, harganya bervariasi mulai dari Rp 200 ribu untuk diameter 15 cm hingga Rp Rp 400 ribu, atau lebih, untuk diameter 25 cm. Sekarang dengan uang Rp 50.000 pun kita bisa membawa pulang pakis monyet dari nursery ke rumah.

Celakanya lagi, banyak pedagang menerima pasokan dari pemburu tanaman yang tidak tahu banyak soal tanaman. Banyak pemburu yang ’’memenggal’’ titik tumbuh pakis monyet, yaitu tunas berambut keemasan di ujung batang.

Kuncup emas itulah yang dijualnya ke pedagang. Padahal, kalau tidak segera laku, kuncup emas itu bakal mati, karena memang tak bisa tumbuh lagi. Bukan hanya itu, batang dan akarnya yang tertinggal di hutan pun akan mati dan membusuk. (Dela SY-32)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: