Kista Ovarium, Momok Kaum Hawa

4 11 2009

Kista dalam ovarium (kandung telur) kini menjadi salah satu momok kaum hawa. Mereka khawatir tak bisa hamil, terutama pada istri yang baru menikah dan belum dikaruniai keturunan

SEBENARNYA kista ovarium tidak selalu berbahaya. Dalam beberapa kasus, ada juga yang jinak dan dapat hilang dengan sendirinya.

Ketakutan yang berlebihan justru dapat memengaruhi kondisi jiwa (psikis), sehingga menggangu keadaan hormon, menurunkan ketahanan tubuh, serta justru bisa menghambat proses menuju kehamilan itu sendiri.

Yang terpenting adalah selalu berkonsultasi dengan dokter kandungan terdekat, untuk mendapat informasi memadai mengenai gangguan yang dialaminya. Artikel ini sekadar mengantar pemahaman Anda terhadap kista dalam ovarium.

Apa sih yang dimaksud dengan kista? Kista adalah kantong berisi cairan (bisa juga setengah cair), cairan kental atau nanah, serta udara. Ia bisa tumbuh dalam organ tubuh manusia, di mana saja, termasuk dalam ovarium.

Pada umumnya, kista ovarium terjadi pada perempuan di masa reproduksinya, atau sejak masa pubertas hingga menopause. Ia bisa muncul kapan saja, termasuk ketika seseorang dalam masa kehamilan.

Kista ini biasanya akan mengecil atau hilang dengan sendirinya setelah perempuan menopause, lantaran aktivitas ovariumnya sudah menurun drastis.
Banyak faktor pemicu terbentuknya kista ovarium (lihat tabel). Namun, sebagian besar akibat perubahan kadar hormon yang berlangsung selama masa siklus haid, produksi, dan pelepasan sel telur (ovum) dari ovarium.

Jika ujudnya masih kecil, kista ini tidak menimbulkan gejala apa-apa. Tetapi Anda harus memastikannya ke dokter kandungan, terutama mengenai potensinya menjadi kanker.

Banyak penderita yang menyepelekan, termasuk terlambat memeriksakan diri ke dokter. Tahu-tahu kista sudah membesar, bahkan sudah bersifat ganas, sehingga menjadi lebih sulit untuk ditangani.

Kista Folikel

Ada beberapa tipe kista ovarium, dengan penyebab, tingkat keganasan, dan penanganan yang berbeda. Pertama, kista fungsional, yang terbentuk dari jaringan yang berubah pada saat fungsi normal haid. Kista inilah yang biasanya akan mengecil dan menghilang dengan sendirinya setelah 2-3 siklus haid.

Apabila dibedah lebih dalam, kista fungsional yang disebutkan di muka masih dibedakan lagi menjadi dua jenis, yaitu kista folikel dan kista lutein. Kista folikel timbul akibat dari folikel yang tidak berfungsi selama siklus menstruasi.

Folikel adalah suatu rongga cairan yang normal terdapat dalam ovarium. Dalam keadaan normal, folikel yang berisi ovum ini akan terbuka saat siklus menstruasi, untuk melepaskan ovum.

Tapi pada beberapa kasus, folikel tidak terbuka (tidak pecah) sehingga tak bisa melepas ovum. Akhirnya terjadilah bendungan carian yang kelak menjadi kista.
Kista folikel biasanya tidak berbahaya, jarang menimbulkan nyeri, bahkan sering hilang sendiri setelah 2-3 siklus haid.

Tetapi jika pecah atau terpelintir, kista berbentuk kecil ini dapat menimbulkan gejala terasa kaku dan sakit hebat di daerah perut bagian bawah, seperti serangan radang usus buntu.

Tipe kista folikel inilah yang paling banyak ditemukan dokter, biasanya secara tidak sengaja ketika dokter melakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG).

Kista Lutein

Bagaimana dengan kista lutein? Kista ini terjadi akibat perubahan hormon, sehingga folikel dapat berubah menjadi korpus luteum dan mengeluarkan ovum untuk dibuahi. Korpus luteum lalu mengalami degenerasi (hancur sendiri dan diserap tubuh).

Keadaan ini sebenarnya normal. Tetapi terkadang setelah ovum dilepas, lubang keluar tertutup sehingga jaringan-jaringan mengumpul di dalamnya. Akibatnya, korpus luteum membesar dan menjadi kista.

Beberapa kista lutein sering terjadi saat kehamilan. Kista ini tidak berbahaya, karena bisa mengecil atau hilang dengan sendirinya seiring dengan bertambahnya usia kehamilan.

Jadi tidak perlu diangkat, kalau memang tidak mengganggu janin, namun tetap membutuhkan pengawasan khusus. Sebab dalam beberapa kasus, kista ini tumbuh hingga diameter 10 cm, serta berpotensi berdarah dan mendesak ovarium. Akibatnya terjadi nyeri panggul atau perut. Jika berisi darah, kista bisa pecah dan menyebabkan perdarahan internal serta nyeri tajam secara mendadak.

Kista lutein masih dibedakan lagi menjadi beberapa subtipe, antara lain granulosa lutein dan theca lutein. Kista granulosa lutein terjadi di dalam korpus luteum ovarium yang fungsional. Kista ini dapat membesar akibat penimbunan darah berlebihan saat fase perdarahan dari siklus menstruasi, bukan karena tumor.

Granulosa lutein biasanya timbul pada awal kehamilan. Apabila diameternya mencapai 5-6 cm, penderita bisa mengalami rasa tidak enak di daerah panggul. Jika pecah, terjadi pendarahan pada satu sisi rongga perut. Pada wanita yang tidak hamil, kista ini akan menghambat siklus haid, diikuti dengan perdarahan tak teratur.

Sedangkan kista theca lutein berisi cairan bening dan berwarna seperti jerami. Biasanya disebabkan oleh tumor indung telur dan terapi hormon.

Tipe Lain

Selain tipe fungsional, masih ada beberapa tipe lain seperti kista dermoid, endometriosis, denoma, serta polikistik. Kista dermoid adalah kista di mana ovarium berisi aneka jenis jaringan misal rambut, kuku, kulit, gigi, dan sebagainya.

Kista ini bisa terjadi sejak masih kecil, bahkan mungkin sudah dibawa dalam kandungan ibunya. Biasanya bersifat kering, tidak menimbulkan gejala, namun dapat menjadi besar dan menimbulkan rasa nyeri.

Kista endometriosis terbentuk dari jaringan endometriosis (mirip selaput dinding rahim yang tumbuh di luar rahim), menempel pada ovarium, dan berkembang menjadi kista.

Kista ini sering disebut kista cokelat endometriosis karena berisi darah yang mengental dan membeku, berwarna cokelat kemerahan. Kista ini berhubungan dengan penyakit endometriosis yang menimbulkan nyeri haid dan nyeri sanggama.

Sedangkan kista denoma berkembang dari sel-sel lapisan luar permukaan ovarium. Meski bersifat ganas, ia dapat tumbuh membesar sehingga berpotensi ganas serta mengganggu organ perut lainnya dan rasa nyeri.

Adapun kista polikistik terbentuk dari bangunan kista folikel yang mengakibatkan ovarium menebal. Faktor penyebabnya adalah gangguan hormonal, terutama hormon androgen yang dimiliki perempuan dalam jumlah berlebihan.

Androgen adalah hormon yang dipunyai lelaki dalam jumlah banyak. Sedangkan pada perempuan normal, jumlah hormon ini relatif sedikit.
Kista polikisik membuat ovarium membesar dan menciptakan lapisan luar tebal yang dapat menghalangi terjadinya ovulasi (pematangan sel telur), sehingga menimbulkan masalah infertilitas (mandul).

Masih banyak jenis kista ovarium lainnya, seperti kista inklusi germinal, kistoma ovarii simpleks, dan kista Stein-Leventhal. Yang penting, Anda sudah memiliki bekal pengetahuan memadai mengenai gangguan ini, sehingga tak perlu panik namun jangan pula menyepelekannya. (S Mulyani, dari berbagai sumber-32)


Aksi

Information

2 responses

24 03 2010
Sakura

thx… tu informasinya

12 12 2010
oslo3

ntar ya mbak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: