Dia Mengikat Masa Depanku

3 11 2009

Perkenalanku dengannya berlangsung manis. Sammy lelaki yang menyenangkan, sopan, dan tahu membuat perempuan merasa “terbang”. Aku pun, seiring waktu, mulai acap mengkhayalkan dirinya. Ternyata khayalanku bersambut. Cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Dunia pun terasa segar dan menyenangkan.
Hari-hariku tak lepas dari Sammy. Sepulang kerja, dia pasti sudah ada di pelataran parkir, menungguku. Kami pun akan menghabiskan malam bersama, bercanda, makan malam, dan bermesraan kecil-kecilan. Di usiaku yang masih tergolong muda, Sammy adalah pacar keduaku. Tapi rasanya, inilah untuk pertama kalinya aku jatuh cinta.

Mungkin beda usia kami yang membuatku merasa selalu berada dalam pengertiannya. Sammy lebih tua 7 tahun dariku. Karena itu, dia menjadi pengambil keputusan tentang kami. Belanja misalnya, selain memang selalu dia yang membayari, jenis busana pun dia yang memilihkan. Dan aku selalu merasa nyaman dengan pilihannya. Sammy membawaku ke arah hidup yang lebih baik dan menggairahkan. Jadi, tak salah kan jika kupercayakan diriku padanya.

Aku ingat pasti malam itu, nyaris 9 bulan setelah perkenalan kami. Sehabis menghadiahiku berbagai kemeja dan sebuah cincin, kami bermesraan kecil di mobilnya. Tapi kurasakan dia begitu bergairah malam itu. Aku sampai merasa dia mengarahkanku ke “sesuatu”. Tapi lucunya, atau anehnya, aku membiarkan saja “sesuatu” itu terjadi. Aku tahu betapa berbahayanya jika “sesuatu” itu terjadi, dan aku takut. Tapi ketakutanku itu tak menahan rasa ingintahuku juga atas “sesuatu” itu. Dan begitulah, di mobil itu, “sesuatu” itu kami singkap dan kami singgahi. Di mobil itu aku menyerahkan diriku, tanpa tangis. Tapi juga bukan tanpa sesal. Ada sedikit rasa bangga ketika Sammy kaget bahwa ternyata aku masih perawan. Dan sedikit kecewa karena kuserahkan diriku justru di mobil, bukan di ranjang pengantin.

Tapi mobil itu hanya permulaan saja. Selanjutnya, berbagai hotel, tempat wisata, kami singgahi untuk berpetualang asmara. Aku pemain baru, dan hanya mengikuti saja arahan Sammy, yang kukira sangat mengerti. Aku pun tak bisa lagi mengelak, kapan pun dia hendak.

Lucunya, setelah “sesuatu” itu tak lagi jadi rahasia, rasa cintaku tumbuh kian kuat padanya.

Bukan saja rasa cinta, tapi juga ketergantungan.

Ketergantungan yang parah.

Aku jadi dihinggapi rasa cemas, jika dia, misalnya, tak datang suatu malam. Aku jadi takut dia tiba-tiba menghilang.

Padahal dulu, tak pernah rasa cemas itu datang.

Padahal dulu, kalau dia tak datang, tak pernah aku merasa sangat kehilangan.

Dan memang setelah kemesraan yang menggebu-gebu itu, Sammy jadi berkurang frekwensi berkunjungnya. Jika pun dia menelpon akan menjembut, nyaris tanpa basa-basi, dia langsung membawa aku ke hotel, menggumuliku. Kemudian, makan malam, dan memulangkanku ke kontrakan. Selalu begitu.

Aku, setelah kenal “sesuatu” itu memang jadi menyukainya. Tapi aku tak suka kalau cuma menjadi boneka.

Dan kini kuakui, Sammy menganggap aku boneka.

Objek seksualitasnya. Pemenuhan fantasinya. Gambaran idealnya tentang persetubuhan.

Aku tak mau itu. Maka kutanyakan padanya, mengapa dia tak datang sesering dulu. Mengapa dia kini lupa bercumbu dan bercinta seperti dikejar waktu.

Aku mengaku cemburu. Cemburu pada hari-hari ketika dia tak ada bersamaku. Cemburu pada ketakutan dan kecemasan yang acap datang setelah aku tak lagi punya “sesuatu”. Cemburu pada keberdiamannya jika jalan bersama, yang tak seriang dan segembira dulu.

Sammyku tidak seperti ini, dan aku ingin dia seperti dulu.

Tapi memang waktu tak bisa diputar. Cerita selalu punya masa edar.

Sammy akhirnya berterus terang. Dia tak lagi lajang. Telah enam bulan dia menikah. Jadi, dua minggu setelah asmara di mobil itu, dia menikah. Dua minggu setelah dia mengambil “sesuatu” itu dariku, dia pun mendapatkan “sesuatu” yang lain dari perempuan lain.

Tapi aku tak bersedih. Kata Sammy, dia tidak cinta perempuan itu. Kata Sammy, dia hanya mengikuti saran orangtua. Kata Sammy, akulah perempuan yang ingin dia nikahi. Kata Sammy, kami harus kuat menderita dulu sebelum menuju bahagia. Kata Sammy, hanya kepadaku dia bisa merasakan kenikmatan asmara. Kata Sammy, bahkan ketika bercinta dengan istrinya, dia acap membayangkanku. Kata Sammy, dia bertengkar karena tanpa sadar dia mengeluhkan namaku. Kata Sammy, mereka akan bercerai. Kata Sammy, aku harus bersabar. Kata Sammy, aku harus bersabar lagi. Kata Sammy, tapi kami juga harus bercinta terus, biar ikatan di antara kami menjadi abadi. Kata Sammy, aku harus bersabar lagi, soal cerai tengah diurus. Kata Sammy, aku harus bersabar terus.

Akhirnya, kesabaranku justru tergerus.

Sampai kapan? Aku tak bisa menanti, dan dimintai sabar sampai dua tahun ini. Aku tak bisa hanya membiarkan dia menggelepar di atas tubuhku saja. Aku ingin berumah dengannya dan tak hanya bercinta. Aku ingin keluar dari ketidakpastian ini.

Tapi Sammy bilang, hanya dia yang mengerti aku. Sammy bilang, perempuan yang tak perawan, tak akan bisa dihargai pasangan. Sammy bilang, jika aku berpaling darinya, lelaki yang menikahiku akan mencampakkanku sehabis malam pertama. Aku jadi takut. Aku jadi tahu, betapa terikatnya aku setelah menyerahkan “sesuatu” itu padanya. Aku jadi tahu, betapa masa depanku jadi terbatas, pilihanku jadi kian sedikit setelah itu.

Sammy ingin aku bersabar, tapi aku justru terkapar. Aku bingung. Aku tak tahu benarkan dia tak cintai perempuan itu. Benarkah dia ingin bercerai? Aku tak ingin bercinta lagi sebelum urusan ini kelar. Tapi aku selalu takut menolak, karena takut sekali jika dia campakkan. Aku menyesal sekali berkenalan dengannya, dan terpikat pada cintanya. Cinta yang kuyakin penuh dengan rekayasa badaniah saja.

Tapi aku bisa apa?


Aksi

Information

2 responses

3 11 2009
wahyu am

nice story😆

3 11 2009
oslo3

terimkasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: