Cicak Menelan Buaya

3 11 2009

MEMANG selalu ada wilayah kemuskilan sebagaimana tercermin lewat unen-unen ‘’cecak nguntal lo’’ ataupun ‘’timun mungsuh duren’’. Meski begitu, bukan berarti yang tampak kecil atau lemah sekalipun selalu tak mampu ‘’menelan’’ yang besar dan perkasa. Sebab, bukankah pingsut telah memberikan filosofi: gajah sekalipun bisa mati oleh semut!

Pada legenda berdirinya Kota Surabaya, memang ternarasikan bahwa lawan sebanding buaya hanyalah makhluk sebesar dan sekuat reptil ganas ini. Dialah sura atau sejenis ikan hiu. Dengan sura-lah siang-malam buaya bertarung. Sama-sama perkasa, sama-sama digdaya.
Namun sebagaimana kisah tragis Dora dan Sembada, pertempuran kedua petarung sakti itu pun berakhir sampyuh. Sama-sama menang, atau lebih tepatnya sama-sama kalah karena kematian keduanyalah yang mengakhiri pertarungan itu. Pertarungan antara sura dan baya itulah yang kemudian terabadikan dalam nama ibu kota Provinsi Jawa Timur.
Jika dengan sura yang sebesar dan sekuat itu, buaya barulah mendapatkan lawan tanding sebanding, apakah dengan hewan yang lebih kecil sudah pasti ia bisa keluar sebagai pemenang? Belum tentu pula. Malahan dalam berbagai cerita, buaya hampir selalu tampil sebagai pecundang ketimbang jadi pemenang.
Fabel yang tergolong populer, yakni kisah kancil dan buaya misalnya, hanya menempatkan hewan penunggu kali itu sebagai yang ditakuti tapi sekaligus yang mudah diperdaya. Ketika dalam pelarian, kancil terhalang oleh arus deras air kali, buaya mengira santapan empuk telah datang. Namun kancil justru melihat ancaman itu justru sebagai kemungkinan untuk membebaskan diri.
Kepada buaya, ia menyatakan rela menjadi santapan. Namun kancil mengaku perlu memastikan jumlah buaya yang akan menyantapnya. Karena itu, ia meminta buaya-buaya di seluruh kali untuk berbaris menghadap hulu, dari pinggir kali tepat ia berpijak hingga hampir di seberang.
Bukan kancil kalau tak bisa mengakali buaya. Dari punggung satu ke punggung buaya yang lain, ia melompat sambil seru menghitung. Dan, sampai pada hitungan terakhir, bertumpu pada buaya paling seberang, ia pun meloncat dan berlari meninggalkan buaya-buaya itu gigit taring.
Ya, menghadapi kancil, mungkin buaya lupa bahwa semestinya bukan sekadar adu atosing balung wuleding kulit. Tidak hanya adu okol, tetapi yang terpenting adalah menggunakan akal —bahkan kejuligan.
Karena hanya mengandalkan okol pula, empat puluh buaya pun harus bertekuk lutut di bawah kuasa perjaka dari Desa Tingkir, Mas Karebet, bahkan kemudian menopang perjalanan calon penguasa Keraton Pajang itu. Kejadian di Kedung Srengenge tersebut tergambar dalam tembang megatruh berikut: Sigra milir sang gethek sinangga bajul/ kawan dasa kang njageni/ ing ngarsa miwah ing pungkur/ tanapi kanan kering/ sang gethek lampahnya alon (segera bergerak sang gethek disangga buaya/ empat puluh yang menjaga/ di depan dan di belakang/ serta kanan-kiri/ sang gethek pun melaju pelan).
Awas, Bajul Putih!
Kisah para buaya Jawa memang lebih banyak berupa cerita tentang para pecundang. Alih-alih menerima kekalahannya atas Aji Saka, sang mahadurja Dewatacengkar yang terlempar di samodra justru menjelmakan diri sebagai buaya, bajul putih. Lengkap pula dengan sumpah serapahnya: kelak akan melakukan pembalasan terhadap anak-cucu Ajisaka.
Pelajaran yang bisa dipetik dari kisah-kisah itu, berhatilah-hatilah terhadap buaya dari jenis apa pun. Tak peduli apakah itu buaya kali, buaya telaga, apalagi buaya darat, juga baya putih. Lebih hati-hati pula terhadap mereka yang memba-memba dengan pengawak lain, padahal sejatinya buaya.
Sekalipun demikian, bukannya tidak sisi baik satu pun dari sosok buaya. Boleh jadi dialah makhluk paling setia di muka bumi ini. Sebab, seekor buaya jantan hanya mau berhubungan badan dengan satu buaya betina sebagai pasangan setianya.
Pelajaran lain, yang bisa jadi lebih penting, jangan terlalu menganggap remeh terhadap siapa pun, sekalipun ia tampak kecil dan lemah. Lebih baik memedulikan filosofi pingsut.
Dalam pingsut, yang tinggi bukan berarti menang dari yang pendek. Yang gemuk juga berarti unggul dari yang kurus. Dalam pingsut, penuding (jari telunjuk) memang lebih unggul daripada jenthik (kelingking). Secara fisik, memang jenthik kalah segala-galanya dari penuding. Penuding lebih panjang, juga lebih besar.
Sekalipun demikian, jenthik tidak selalu menjadi pihak yang kalah karena kecilnya. Dibandingkan jempol, yang merupakan lawan tak tertandingi buat penuding, jenthik justru menang.
Relasi ketiga pihak itu lazim dikonkretkan dengan jempol sebagai repesentasi gajah, penuding sebagai wong, dan jenthik merupakan semut. Gajah lebih unggul daripada manusia, tetapi manusia menang dari semut. Namun semutlah yang bisa mematikan gajah. Konon dengan dengan cara masuk ke dalam kuping gajah, semut bisa menaklukkan hewan berukuran besar itu.
Memang di balik kelemahan secara fisik, kerap kali bersemayam kekuatan untuk mengungguli. Bukankah jika dihitung dari segi jumlah, juga fasilitas yang dimiliki, Pandawa tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Kurawa. Anggota inti Kurawa seratus orang, sedangkan Pandawa cuma lima jiwa. Kurawa punya segala-galanya, harta juga kuasa, sedangkan Pandawa harus menjalani hidup belasan tahun dari hutan satu ke belantara lain.
Namun Bharatayuda menunjukkan hasil yang lain sama sekali dari kalkulasi awal dan kasar macam itu. Dianggap sebagai cicak, Pandawa justru berhasil ‘’menelan’’ kepongahan buaya, para saudara sepupunya itu.
Ya, memang tak mungkin ‘’cecak nguntal lo’’, namun di sisi lain secara isbat bukankah kita kerap kali kita disuruh untuk ‘’nggoleke tapaking kuntul nglayang’’ ataupun bisa ‘’mati sajroning urip’’ demi ‘’urip sajroning pati’’. Karena itu, sungguh bukan tidak mungkin pula jika cicak pun bisa nguntal baya. Itu jika para ‘’buaya’’ tak pernah mau belajar dan barkaca dari kekalahan demi kekalahan yang telah mereka alami. (35)

(—Sucipto Hadi Purnomo, dosen Budaya Jawa Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa FBS Unnes /)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: