Aku hanya Diwarisi Harapan

3 11 2009

USIAKU tak muda lagi, 29 tahun. Tapi, kian matang usiaku, makin selektif juga aku memilih teman lelaki. Aneh ya? Biasanya, makin “tua” seorang gadis, tentu makin longgar dia atak kriteria pada lelaki yang dia dambakan. Tapi aku sebaliknya. Aku pikir, lebih baik melajang selamanya, daripada mendapatkan lelaki yang jauh dari kriteria.

Apakah aku tinggi hati? Menurutku sih tidak. Tapi, kata teman-teman, aku terlalu pemilih. Karena terlalu pemilih itu juga, sampai kini aku baru 3 kali pacaran, dan berpisah karena tidak kutemukan hal-hal yang bisa menyatukan kami ke dalam jenjang pernikahan. Barangkali, tingkat pendidikan dan pekerjaan memang mengharuskan aku sedikit keras pada pilihan. Sebagai manager di sebuah perusahan besar ekpor di sebuah kabupaten yang dekat dengan Semarang, aku pun berteman dengan kalangan yang sejenis. Dan itu tak menarik minatku.

Sampai bulan Februari lalu, aku bertemu dengan Surya di Jakarta, dalam pertemuan dengan sesama kolega.

Surya sudah matang, 34 tahun. Lajang, dan berposisi yang selevel denganku. Masalahnya, dia di Jakarta. Tapi, ketertarikanku ternyata bersambut. Surya merasakan getar yang sama, hahaha… seperti remaja aja ya? Maka, kami pun jadi sering berhubungan, lewat telepon, SMS, kadang chatting seharian. Makin intesif kami berkomunikasi, makin aku merasa cocok. Dia sopon, perhatian, ngemong. Aku suka sekali berbincang bersamanya. Beberapa kali dia kuundang datang ke kota ini, dua kali dia datang. Dan ketika bersamanya, berdua, kecocokan itu makin terasa. Aku suka. Belum pernah aku berpikir akan menikah dengan seorang lelaki, kecuali dengan Surya ini.

Surya memang penuh kejutan. Di bulan Juni, tiba-tiba saja dia tak membalas SMS, telepon, juga email yang aku kirimkan. Dengan aneka pertanyaan, juga kecemasan, dan kecemburuan, aku memutuskan akan ke Jakarta di akhir pekan. Tapi, ketika akan berpamit pada orangtua, justru lelaki itu kutemukan sudah berada di rumahku, ngobrol dengan ayah serta ibu. Aku kaget setengah mati. Di ruang tamu, Surya tergelak-gelak, tertawa, ditemani ayah. Ajaib. Sulit rasanya melihat ayah bisa serileks itu dengan orangmuda. Tapi, melihat mereka demikan akrab, aku jadi merasakan kebanggaan memasuki hatiku. Surya memang memikat, termasuk kepada ayahku. Tapi apa tujuan dia ke rumahku.

Olala, ternyata Surya mengenalkan dirinya kepada ayahku. Dia menjelaskan, betapa seriusnya dia padaku. Dia mengenalkan diri, agar orangtuaku percaya, bahwa anaknya sedang berteman dengan lelaki baik-baik, yang meminta izin lebih dulu dengan orangtuanya. Dan Surya, meski tersamar, telah memintaku untuk menjadi istrinya. Hal itulah yang membuat orangtuaku terkejut, meski sekaligus kagum dan bangga akan keberaniannya. Dua hari Surya di kota ini, makan dan minum di rumah, hanya tidur di hotel. Dua hari juga, dia membuka diri pada keluargaku. Membuatku melayang. Untung gak sampai terbang jauh, hahaha…

Tapi ternyata, selepas Surya pergi, orangtuaku kembali ke watak aslinya. Ayahku tak keberatan dengan Surya, tapi dia tak mengizinkan aku kalau harus bekerja di Jakarta. Aku paham, sebagai anak terakhir dan satu-satunya perempuan, ayah ingin aku tinggal dan menemani mereka. Aku juga paham, ibu tak ingin lagi ditinggalkan oleh anaknya, apalagi Masku pergi sampai ke luar pulau. Sehingga tak ada yang menemani ibnu, termasuk kerinduan akan cucu-cucunya.

Aku katakan hal itu kepada Surya. Dia minta aku membujuk ayah dan ibuku. Apalagi, Jakarta tidak terlalu jauh. Dua atau tiga bulan sekali, kami pun akan bisa saling mengunjungi. Aku pun mulai membujuk ayah dan ibu. Selama itu juga, komunikasiku kian eefektif dengan Surya. Aku sudah tahu niatnya, orangtua juga sudah menerima dia, jadi apa lagi yang harus aku pikirkan. Maka, ketika Surya kembali ke kota ini, dalam kemesraan yang tak tertanggungkan, aku serahkan semuanya, dengan ikhlas. Tak ada penyesalan, tak ada ketakutan. Aku serahkan hal itu karena kuyakini, dia adalah calon suamiku, ayah dari anak-anakku. Kami pun mereguk kembali, mengulang lagi, lagi, seakan tak ingin berhenti. Sampai Surya kembali.

Seusai itu, aku kian intensif berkomunikasi dengan orangtua. Akhir kata, di awal Agustus, restu itu datang. Aku mendapat restu meski harus berada di Jakarta. Aku senang sekali. Serta merta, aku katakan kalau Lebaran ini, keluarga Surya akan datang memintaku secara resmi, dan Desember kami mungkin akan menikah. Orangtuaku siap saja.

Aku kabarkan hal itu pada Surya. Tapi, teleponku tak bersambut. Emailku tak berjawab. SMS tak diterima. Ada apa? Jangan-jangan dia akan memberi kejutan lain, datang lagi ke kotaku. Aku tertawa, dan menunggu saja. Tapi, di akhir minggu, tak ada kejutan itu. Aku mulai panik. Kutelepon ke kontrakannya. Ternyata, Surya telah seminggu berangkat ke Amerika, meneruskan sekolahnya. Aku pucat. Lemas. Kaget sedahsyatnya. Ini gila! Ini tak mungkin. Aku telepon lagi, ke kantornya. Aku cerna. Ternyata, telah sebulan Surya mengundurkan diri karena harus sekolah lagi. Aku tanya alamat rumahnya, dan mendapatkan. Aku phone ke rumahnya, ternyata benar. Dan yang sangat menyakitkan, ternyata selama ini tak pernah sekali pun Surya menyebutkan namaku di dalam kelurganya. Jadi, tak ada rencana pernikahan itu, tak ada rencana perkawinan itu. Aku masuk pada perangkatnya, masuk pada rencana matangnya, masuk pada semua skenario yang dia ciptakan. Aku terjerat, terjerembab.

Aku menangis. Sesakit-sakitnya asmara, baru kali ini kurasakan sakitnya tertipu cinta.

Telah kuserahkan semua. Semua yang kupercaya. Ternyata itu palsu.

Telah kupercayai dia. Tapi itu ternyata khayalku saja.

Kuizinkan dia menjadi suamiku. Tapi aku tenyata cuma bonekanya.

Kuizinkan dia memasuki hidupku. Tapi segera aku menjadi masa lalunya.

Ini gila.

Tak terbayangkan. Tak tertahankan. Aku pun tumbang.

Dua minggu aku di rumah sakit. Orangtuaku tak mengerti. Tapi, serapat apa pun kusembunyikan, akhirnya mereka tahu ada yang tak beres dengan diriku. Aku pun bercerita. Tentu tidak semua. Aku tak ingin mereka tahu kalau anaknya telah sedemikian bodoh sampai menyerahkan diri pada lelaki gila itu.

Kini, nyaris 40 hari dari kejadian itu, kutertawai nasibku. Surya pergi, melarikan diri. Dan yang ada padaku, hanya harapan saja. Dia cuma mewariskan harapan. Betapa kejam.

Kini, sering aku berdoa, agar dia merasakan juga, sakit yang kuderita ini, di sana. Semoga Tuhan membalaskannya.


Aksi

Information

2 responses

4 11 2009
Imel

Yg sabar ya mbaak

28 02 2010
Oppofffup

Infatuation casinos? enquiry this unruffled runny behind the ears casino president and wing it pulp online casino games like slots, blackjack, roulette, baccarat and more at http://www.realcazinoz.com .
you can also into our redesigned casino advice at http://freecasinogames2010.webs.com and wager posted spondulix !
another lone casino spiele within an eyelash of is http://www.ttittancasino.com , allot for german gamblers, be repaid unrestrained online casino bonus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: