What is this

25 10 2009

Menurut para penasihat dadakan, ikan gurami membutuhkan masa pelihara lebih panjang ketimbang ikan mas (tombro), jadi saat menunggu gurami besar dan siap panen, kami sudah bisa memanen ikan mas empat kali. Dari buku para ahli ikan mas, disebutkan bahwa dalam waktu 3 bulan ikan mas yang dipelihara secara intensive akan siap dipanen dan dijual ke pasaran. Ibarat kata sekali tepuk empat panen terlewati.

Lalu pendapat ini saya uji silang kepada teman-teman dikantor yang terlebih dahulu bergerak secara kelompok membesarkan ikan di di karamba (jaring terapung) di danau. Sambil memperlihatkan wajah penuh optimis mereka menambahkan “pokoknya tidak akan rugi, ikan berapa ton akan dilahap pasar..” – coba siapa yang tidak menabuh semangat empat lima kalau sudah begini.” Bahkan sudah mulai ancang-ancang mengambil langkah pensiun dini.

Sejak itu setiap hari akhir pekan saya banyak menghabiskan waktu berendam di kolam ikan Citayam. Atau ke Parung, Bogor guna membeli pakan pabrik berupa butiran (pelet). Kolam pemeliharaan ikan mas mulai dibombardir dengan pakan bermutu tinggi dan saya tinggal uncang-uncang kaki menanti panen tiga bulan kedepan, sekaligus uang hasil penjualan. Yang dimaksud pakan bermutu tinggi paling tidak ada separuh kandungan protein untuk tumbuh kembang sang ikan.

Bulan pertama, catatan pengeluaran pembelian pakan, gaji pegawai, uang preman, uang pembangunan jalan, listrik jalan, masjid sudah mulai membengkak. Bulan kedua saya mulai memonitoring kartu tumbuh kembang para ikan secara acak. Darah mulai mengalir dari ujung rambuk sampai kepala. Kecuali napsu makan yang tetap tinggi, onderdil ikan tetap tidak banyak berubah banyak seperti yang diharapkan atau dituliskan dalam buku petunjuk beternak ikan.

Bulan ketiga kesabaran mencapai strip terendah. Kolam kami keringkan dan ikan dihitung. Ternyata sinyalemen penduduk benar, selain ikan tetap kontet, jumlahnya tidak berbeda banyak dengan saat membeli kloter pertama. Jadi kemana jumlah ikan yang dimasukkan pada kloter kedua?.

Lalu saya panggil sang penasihat merangkap pemasok ikan yang nakal. Mereka berkelit, “dimangsa burung Pak,” seberapa banyak burung sampai mencaplok ratusan ekor. Ah, dia tidak kalah lidah “namanya ikan di air, nasibnya siapa tahu?.”

Wah repot juga memiliki partner kalau sekedar mau mendapat keuntungan dengan sistem pukul sesaat begini. Apakah mereka tidak memikirkan berbisnis lebih panjang lagi?. Karena jengkel ikan -ikan pygmi ini akhirnya saya berikan kepada teman yang hanya sekedar hobbi memelihara ikan untuk hobbi. Dua tahun kemudian saya berkunjung ke kolamnya, ternyata yang saya temui adalah ikan fitness saking langsingnya.

Pelajaran yang saya dapat adalah mendapatkan bibit ikan harus dari pemasok yang terpecaya sekalipun harganya sedikit mahal namun mutu terjamin. Kemudian, jangan membeli pakan pabrik di penjual sembarangan sebab anda akan mendapatkan kualitas pakan nomor dua yang rendah proteinnya dan berakibat ikan lambat tumbuh kembangnya. Saya juga baru tahu bahwa pakan palsu beredar dimana-mana.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: